A. Petunjuk pengerjaan
- Bacalah setiap cerita dengan
teliti sebelum menjawab pertanyaan.
- Jawablah berdasarkan konsep
teknik bubut, prosedur kerja, keselamatan dan kesehatan kerja (K3), serta
ketelitian pengukuran.
- Berikan alasan yang logis
dan sesuai dengan kondisi nyata di bengkel.
- Untuk soal yang berkaitan
dengan proses pengerjaan, jelaskan urutan langkah kerja secara sistematis.
- Gunakan prinsip pembelajaran
mendalam: memahami konsep, menerapkan pengetahuan, mengevaluasi hasil, dan
memecahkan masalah nyata.
Soal
disusun dengan mengacu pada ruang lingkup pembelajaran teknik pemesinan bubut
yang relevan dengan Kurikulum Merdeka SMK. Penyesuaian terhadap capaian
pembelajaran dan ATP yang digunakan sekolah tetap diperlukan.
B. Soal cerita (30 soal)
Bagian 1 — Pengenalan mesin bubut dan komponen
Soal 1.
Proyek Poros untuk Kipas Industri
Rizal dan
kelompoknya mendapat tugas membuat poros kipas industri dari batang baja
berdiameter 30 mm. Guru meminta mereka mengenali fungsi setiap bagian mesin
bubut sebelum memulai pekerjaan. Rizal melihat cekam, kepala tetap, kepala
lepas, eretan, dan alas mesin, tetapi belum memahami hubungan fungsi komponen
tersebut dengan proses pembubutan.
b.
Mengapa pemahaman fungsi komponen mesin penting sebelum proses pembubutan
dimulai?
Soal 2.
Mesin Bubut Mengeluarkan Getaran
Ketika
Andi membubut benda kerja berdiameter 40 mm, mesin mengeluarkan getaran yang
cukup kuat. Hasil permukaan menjadi bergelombang dan terdengar suara tidak
normal. Andi ingin segera menyelesaikan pekerjaannya karena waktu praktik
hampir habis.
b.
Sebutkan tiga kemungkinan penyebab getaran tersebut.
c.
Bagaimana cara memeriksa dan mengurangi getaran secara aman?
Soal 3.
Memilih Mesin untuk Pekerjaan Poros
Sebuah
bengkel sekolah menerima pesanan poros silindris sepanjang 250 mm dengan
beberapa bagian bertingkat. Tersedia mesin bubut konvensional, mesin bubut CNC,
dan mesin frais. Kelompok Sinta harus menentukan mesin yang paling sesuai
dengan kemampuan bengkel dan bentuk benda kerja.
b.
Mengapa mesin frais bukan pilihan utama untuk membubut permukaan silindris luar
poros tersebut?
c.
Sebutkan dua kondisi yang dapat membuat mesin bubut CNC lebih menguntungkan
daripada mesin bubut konvensional.
Bagian 2 — K3 dan persiapan kerja
Soal 4.
Bahaya Serpihan Logam
Budi
sedang membubut baja. Serpihan logam panjang terbentuk dan melilit benda kerja.
Karena ingin membersihkan mesin dengan cepat, ia berniat menarik serpihan
menggunakan tangan yang memakai sarung tangan.
b.
Jelaskan prosedur yang benar untuk menangani serpihan logam tersebut.
c.
Sebutkan alat pelindung diri dan aturan keselamatan yang relevan saat
mengoperasikan mesin bubut.
Soal 5.
Kunci Cekam Tertinggal
Sebelum
menghidupkan mesin, Deni memasang benda kerja pada cekam tiga rahang. Ia lupa
mengambil kunci cekam yang masih terpasang, lalu bersiap menekan tombol mulai.
b.
Jelaskan pemeriksaan sebelum mesin dihidupkan yang harus dilakukan Deni.
c.
Mengapa kebiasaan memeriksa mesin sebelum operasi merupakan bagian penting dari
budaya kerja industri?
Soal 6.
Benda Kerja Tidak Terpasang Kuat
Nina
memasang batang baja yang cukup panjang pada cekam. Ujung batang terlihat
berputar tidak stabil. Temannya menyarankan agar Nina langsung membubut dengan
putaran rendah tanpa memperbaiki pemasangan.
b.
Bagaimana cara memastikan benda kerja terpasang dengan benar dan stabil?
c. Kapan
penggunaan senter putar atau penyangga tambahan perlu dipertimbangkan?
Soal 7.
Menjaga Kebersihan Bengkel
Setelah
praktik, kelompok Fajar meninggalkan serpihan logam di lantai, alat ukur di
atas eretan, dan oli yang tercecer di sekitar mesin. Kelompok berikutnya hampir
terpeleset saat memasuki area kerja.
b. Susun
urutan kegiatan yang benar untuk membersihkan dan merapikan area kerja setelah
pembubutan.
c.
Bagaimana penerapan budaya 5R dapat meningkatkan keselamatan dan produktivitas
bengkel?
Bagian 3 — Proses dasar pembubutan
Soal 8.
Membuat Diameter Poros Sesuai Gambar
Kelompok
Arman mendapat pekerjaan membuat poros dengan diameter awal 32 mm. Gambar kerja
mengharuskan diameter akhir 25 mm sepanjang 80 mm. Setelah pembubutan pertama,
diameter benda kerja masih 27 mm. Arman ingin langsung mengurangi material
sebanyak mungkin agar pekerjaan cepat selesai.
b.
Mengapa pembubutan sebaiknya dilakukan secara bertahap?
c.
Bagaimana cara memastikan diameter akhir sesuai gambar kerja?
Soal 9.
Membubut Muka Benda Kerja
Sebuah
bengkel sekolah membuat komponen roda kecil. Ujung batang baja hasil pemotongan
gergaji terlihat tidak rata. Guru meminta siswa melakukan pembubutan muka
sebelum mengerjakan diameter luar.
b.
Jelaskan urutan langkah pembubutan muka yang benar.
c.
Mengapa pahat harus dipasang pada ketinggian yang tepat terhadap sumbu benda
kerja?
Soal 10.
Membuat Poros Bertingkat
Roni
mendapat tugas membuat poros bertingkat dengan diameter 30 mm, 25 mm, dan 20
mm. Setiap tingkat memiliki panjang berbeda. Setelah selesai, ternyata panjang
salah satu tingkat melebihi ukuran pada gambar.
b.
Bagaimana urutan penandaan dan pengerjaan agar panjang setiap tingkat tepat?
c. Alat
ukur apa yang digunakan untuk memeriksa panjang dan diameter masing-masing
tingkat?
Soal 11.
Membuat Permukaan Halus
Dewi
membubut benda kerja baja untuk komponen mesin. Diameter sudah sesuai ukuran,
tetapi permukaannya kasar dan memiliki garis-garis yang jelas. Ia menduga bahwa
pahat yang digunakan masih dapat dipakai.
b. Apa
pemeriksaan yang perlu dilakukan terhadap kondisi dan pemasangan pahat?
c.
Bagaimana pengaturan parameter pemotongan dapat membantu memperbaiki kualitas
permukaan?
Soal 12.
Membuat Chamfer pada Poros
Sebuah
poros akan dipasang ke dalam komponen lain. Ujung poros memiliki sudut tajam
yang dapat melukai tangan dan menyulitkan proses pemasangan. Guru meminta siswa
membuat chamfer pada ujung poros.
b.
Bagaimana proses membuat chamfer menggunakan mesin bubut?
c. Apa
yang harus diperhatikan agar ukuran dan sudut chamfer sesuai gambar kerja?
Soal 13.
Membuat Alur pada Poros
Kelompok
Bayu diminta membuat alur pada poros untuk tempat pemasangan cincin pengunci.
Seorang siswa menggunakan pahat rata biasa untuk membuat alur yang sempit.
Hasilnya terlalu lebar dan bentuk alurnya tidak sesuai gambar.
b.
Bagaimana menentukan posisi, lebar, dan kedalaman alur berdasarkan gambar
kerja?
c. Apa
akibatnya jika ukuran alur terlalu lebar atau terlalu dalam?
Soal 14.
Membuat Tirus pada Komponen
Siswa
kelas XI membuat komponen berbentuk tirus untuk alat bantu praktik. Hasil
pekerjaan menunjukkan bahwa diameter ujung besar dan ujung kecil sudah benar,
tetapi bentuk permukaannya tidak lurus dan tidak sesuai panjang tirus yang
diminta.
b.
Sebutkan metode yang dapat digunakan untuk membuat tirus pada mesin bubut konvensional.
c.
Mengapa panjang tirus, diameter besar, diameter kecil, dan sudut tirus harus
diperhatikan secara bersamaan?
Soal 15.
Memotong Benda Kerja
Saat
membuat beberapa komponen kecil, Ilham hendak memisahkan benda kerja dari
batang utama menggunakan pahat potong. Ia memasang pahat sedikit miring dan
menjulurkannya terlalu jauh dari dudukan pahat.
b.
Jelaskan cara pemasangan pahat potong yang benar.
c.
Mengapa pemotongan perlu dilakukan dengan kondisi pahat, putaran, dan gerak
pemakanan yang sesuai?
Bagian 4 — Geometri pahat dan parameter pemotongan
Soal 16.
Pahat Cepat Tumpul
Saat
praktik membubut baja, pahat milik kelompok Raka cepat tumpul dan hasil
pemotongan tidak stabil. Setelah diperiksa, terlihat bahwa ujung pahat
mengalami keausan dan bekas pemotongan berubah warna akibat panas.
b.
Jelaskan pengaruh kecepatan potong, gerak makan, dan kedalaman potong terhadap
proses pembubutan.
c. Apa
tindakan yang dapat dilakukan untuk memperpanjang umur pahat?
Soal 17.
Memilih Jenis Pahat
Guru
memberikan tiga pekerjaan kepada siswa: membubut rata luar, membuat alur
sempit, dan memotong benda kerja. Tersedia pahat rata, pahat alur, dan pahat
potong.
b.
Jelaskan mengapa geometri pahat harus disesuaikan dengan jenis pekerjaan.
c. Apa
dampak penggunaan pahat yang tidak sesuai terhadap kualitas hasil dan
keselamatan kerja?
Soal 18.
Menghitung Putaran Mesin
Sebuah
kelompok akan membubut batang baja berdiameter 40 mm. Berdasarkan rekomendasi
guru dan jenis pahat yang digunakan, kecepatan potong yang dipilih adalah 25
m/menit. Gunakan rumus:
\[ n=\frac{1000V_c}{\pi D} \]
Keterangan:
\(n\) = putaran spindle (rpm), \(V_c\) = kecepatan potong (m/menit), dan \(D\)
= diameter benda kerja (mm).
b. Jika
mesin memiliki pilihan putaran bertingkat, bagaimana memilih putaran yang
sesuai?
c.
Mengapa kecepatan potong harus disesuaikan dengan material benda kerja dan
jenis pahat?
Soal 19.
Memilih Gerak Makan
Dalam
pembuatan poros, kelompok Nanda menggunakan gerak makan terlalu besar.
Pekerjaan selesai lebih cepat, tetapi permukaan benda kerja menjadi kasar dan
pahat menerima beban yang tinggi.
b.
Bagaimana gerak makan memengaruhi waktu pengerjaan dan kualitas permukaan?
c.
Mengapa gerak makan tidak boleh ditentukan hanya berdasarkan keinginan
mempercepat pekerjaan?
Soal 20.
Menentukan Kedalaman Potong
Tono akan
mengurangi diameter benda kerja dari 36 mm menjadi 30 mm. Ia beranggapan bahwa
kedalaman potong sama dengan selisih diameter awal dan diameter akhir.
b. Berapa
kedalaman potong radial jika pengurangan tersebut dilakukan dalam satu
lintasan?
